Sejarah Berdiri Puri Agung Batan Ancak, Pandak Gede - Kediri - Tabanan (Abad ke-17)

BABAD KIAYI NYOMAN BATAN ANCAK

PURI AGUNG BATAN ANCAK PANDAKGEDE


Dikisahkan bahwa Mahapatih Gajah Mada yang berkeinginan menyatukan seluruh nusantara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit mulai menyusun rencana untuk menyerang Bali yang saat itu dikuasi oleh Patih Pasung Gerigis yang berkedudukan di Bedahulu.


Penyerbuan Mahapatih Gajah Mada ke Bali diikuti oleh Para Arya bersaudara pada tahun 1343 M, yaitu :

1.Arya Damar (Sira Arya Teja, Kiayi Nala), sangat berwibawa dan berani,

2.Arya Kenceng, termashur karena pemikiran dan pertimbangannya,

3.Arya Kuta Waringin,

4.Arya Sentong,

5.Arya Tan Wikan (Arya Belog).

Adapun penyerbuan ke Bali sedemikan rupa :

1.Patih Gajah Mada turun di Tianyar dengan pasukannya,

2.Arya Damar dan adiknya Arya Kuta Waringin dari arah utara,

3.Arya Kenceng dengan 2 (dua) orang adiknya, Arya Sentong dan Arya Belog dari arah selatan (Kuta).


Penyerbuan ini berhasil dengan baik, Patih Pasung Gerigis menyerah dan ditawan kemudian dibawa ke Majapahit. Sira Arya Damar setelah selesai melaksanakan tugasnya membantu Mahapatih Gajah Mada menaklukkan Bali, kembali ke Majapahit yang kemudian mendapat tugas baru menjadi Sang Prabu di Palembang, sedangkan para Arya yang lainnya tetap tinggal di Bali serta membagi wilayah :

1.Sira Arya Kenceng di Buahan (disebelah utara Kota Tabanan sekarang) dengan rakyat sebanyak 40.000 orang,

2.Sira Arya Kuta Waringin di Gelgel dengan rakyat 5.000 orang,

3.Sira Arya Sentong di Pacung dengan rakyat 10.000 orang,

4.Sira Arya Belog di Kaba-Kaba dengan rakyat 5.000 orang,


Setelah Para Arya ini mendapatkan wewidangan, kemudian datang lagi menyusul beberapa Arya dari Majapahit ke Bali,   diantaranya :

1.Arya Kunuruhan di Pebgatepan Brangsinga,

2.Arya Menguri di Dauh Bale Agung Penulisan,

3.Arya Pengalasan di Comeng Gawon,

4.Arya Wang Bang di Toh Jiwa Penataran,

5.Arya Delancang di Kapal,

6.Sira Wang Bang di Pina,

7.Arya Gajah Para di Tianyar, disertai oleh 3 (tiga) orang  wesya :

1.Tan Kober di tempatkan di Pacung,

2.Tan Kawur di tempatkan di Abian Semal,

3.Tan Mundur di tempatkan di Cagahan.

Diceritakan bahwa setelah terjatuhnya kekuasaan Patih Pasung Gerigis, Kekuasaan dipegang oleh Para Arya dan di sana-sini terjadi kekacauan.


Untuk menentramkan situasi di Bali, diutuslah Sri Kresna Kepakisan asal keturunan Brahmana, putra dari Danghyang Kresna Kepakisan untuk menjadi Prabu di Bali dengan gelar Dalem, berkedudukan di Samprangan di sebelah timur Tukad Cangkir Gianyar sekarang. Dikisahkan bahwa dalam beberapa tahun saja beliau memerintah sudah tampak adanya kemajuan dan perbaikan-perbaikan, keamanan pulih kembali dan mantap, kegairahan rakyat meningkat.


Beliau bertahta dari tahun 1350 sampai 1373 dan beristrikan seorang keturunan Brahmani yang bersaudara kandung dengan istri Sira Arya Kenceng dan Sira Arya Sentong, jadi ketiganya sebagai ipar.

Dari perkawinan ini Sri Kresna Kepakisan (Ida Sri Aji Dalem) menurunkan beberapa orang putra, yang tertua bernama Sri Agre Kepakisan (Dalem Ile) dan yang terkecil bernama Sri Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngelesir).


Sira Arya Kenceng di buahan mempunyai 3 (tiga) orang putra dan 1 (satu) orang putri, yaitu :

1.Dewa Raka (Kiayi Barak),

2.Dewa Made (Kiayi Gading),

3.Sira Ngurah Tabanan (Kiayi Yasan),

4.Diah Tegeh Kori.

Dari ketiga putra diatas yang memegang peranan penting dalam perjalan sejarah Sira Arya Kenceng adalah Sira Ngurah Tabanan (Kiayi Yasan).


Diceritakan bahwa setelah Ida Sri Aji Dalem Wafat, tahta kerajaan gigantikan oleh putra tertua beliau

1.Sri Agre Kepakisan (Dalem Ile) memerintah dari tahun 1373-1380. Beliau amat suka bersolek, sehingga kurang memperhatikan pemerintahan dan rakyat bahkan sering tidak menghadiri sidang yang beliau adakan dengan para Menteri dan para Arya seluruh Bali karena sibuk bersolek. Akhirnya karena kurang disukai oleh para Menteri dan rakyat, maka beliau harus segera diganti.


Rakyat mendorong kepada putra Dalem yang kedua yaitu Dalem Dimade, namun beliau menolak karena tidak senang menjadi raja dan lebih senang memikirkan kekayaan. Akhirnya rakyat mengajukan pilihannya kepada putra Dalem yang terkecil yaitu Dalem Ketut Ngelesir (Sri Semara Kepakisan). Beliau ini suka berjudi, kemana-mana memburu judi sehingga rakyat sibuk mencari beliau yang akhirnya ditemukan beliau sedang berjudi di Pandakgede didampingi oleh para Sangiang. Rakyat  menyodorkan permintaan agar beliau mau menjadi raja menggantikan kakaknya Dalem Ile yang tidak disukai oleh rakyat dan juga para Menteri. Mula-mula beliau juga menolak, tetapi berkat bujukan rakyat dan juga demi untuk memperbaiki pemerintahan akhirnya beliau bersedia kembali ke Dalem untuk menjadi raja.


Tempat bekas beliau mengadakan judi di Pandakgede dibuatkan Pura yang sampai sekarang dipakai tempat pemujaan oleh rakyat Pandak dinamakan Pura Lemendek yang disungsung oleh Keturunan Pasek Gelgel  dan Puri Agung Batan Ancak dijadikan pengancengnya. Bekas peninggalan lainnya terdapat batu bulat pipih berukuran 2,5 meter dengan ketebalan 50 cm, yang mana batu tersebut dahulunya terletak di dekat Pura Lemendek, namun setelah Puri Agung Batan Ancak berdiri dipindahkan di jabe puri merupakan tempat bersemedi Ida Dalem Ketut Ngelesir dan bagian tepi batu terdapat relief kaki beliau.


2.Sri Semara Kepakisan (Dalem Ketut Ngelesir) memerintah dari tahun 1380-1460. rakyat amat senang karena disamping beliau bagus dan tampan, beliau juga pandai memerintah dan amat bijaksana. Beliau dipuja dan dijadikan junjungan oleh keturunan Dalem.


3.Penggantinya, adalah Dalem Waturenggong bertahta dari tahun 1460-1550.


4.Penggantinya, adalah Dalem Pemayun bertahta dari tahun 1550-1580.


5.Penggantinya, adalah Dalem Sigening bertahta dari tahun 1580-1665.


6.Penggantinya, adalah Dalem Di Made bertahta dari tahun 1665-1686.


Pada waktu pemerintahan Dalem Waturenggong istana dipindahkan ke Gelgel dan tahun 1710 kerajaan pindah dari Gelgel ke Kelungkung di bawah Raja Dewa Agung Jambe.


Diceritakan bahwa setelah Sira Arya Kenceng wafat, Sira Arya Ngurah Tabanan di Istana Buahan menurunkan 7 (tujuh) orang putra :

1.Sira Ngurah Langwang,

2.Ki Gusti Mediatara,

3.Ki Gusti Pascima,

4.Ki Gusti Wetaning Pangkung,

Dari ibu lain :

5.Ki Gusti Nengah Samping Boni,

6.Ki Gusti Nyoman Batan Ancak,

7.Ki Gusti Ketut Lebah.

Kemudian karena Sira Ngurah Tabanan menderita sakit, beliau pindah ke taman di Kubon Tingguh disertai oleh seorang istri keturunan bendesa. Di Kubon Tingguh beliau menurunkan seorang putra yang diberi nama Kiayi Pucangan, sehingga keseluruhan putranya adalah 8 (delapan) orang yang lazim disebut belas kutus.


Tiada berapa lama wafatlah Sira Ngurah Tabanan di Kubon Tingguh dan kerajaan digantikan oleh putranya yang tertua Sira Ngurah Langwang. Setelah Kiayi Pucangan menginjak dewasa mulailah Sira Ngurah Langwang menunjukkan sikap tidak senang terhadap adiknya itu karena takut kekuasaannya direbut.


Beberapa tugas diperintahkan kepada Kiayi Pucangan diantaranya adalah memotong pohon beringin yang terkenal amat angker, namun Kiayi Pucangan tidak gentar melaksanakan tugas itu dan dapat melaksanakannya dengan baik, sehingga kemudian beliau bernama Kiayi Notor Waringin (Wandira). Mungkin Kiayi Pucangan mengetahui maksud dari Sira Ngurah Langwang, sehingga akhirnya Kiayi Pucangan memutuskan untuk meninggalkan istana seorang diri meninggalkan seorang istri dan 2 (dua) orang putranya menuju ke utara sampai di Gunung Batu Karu, kemudian ke timur sampai akhirnya beliau tiba di dataran Ulun Danu Batur, lalu beliau bersemadi. Dalam bersemadi itu beliau mendapatkan sabda dari Betari Ulun Danu :

”Cucuku Pucangan, bangkitlah dari semadimu, mari kutunjukkan tempat yang harus cucuku tuju”.

Diajaklah Kiayi Pucangan ke dataran tinggi untuk melihat desa ke arah barat daya, lalu berkata kepada Kiayi Pucangan :

”Pergilah cucuku ke desa yang hitam (badeng) itu dan ini kuberikan hadiah tulup untuk bekal hidupmu”.

Inilah asal mula kata Badung dari kata badeng dan tempat yang dipakai untuk melihat desa yang ditunjuk diberi nama Penelokan. Setelah mendengar sabda dan petunjuk Betari Ulun Danu pergilah Kiayi Pucangan menuju tempat yang dilihat hitam dari Penelokan itu.


Akhirnya beliau sampai di Lumintang dan menginap di rumah Bendesa, yang konon kemudian dijadikan anak menantu oleh Bendesa Lumintang tersebut. Diperkirakan kedatangan Kiayi Pucangan ke Badung pada abad ke-15 pada masa Kerajaan Waturenggong (1460-1550).


Dari perkawinan Kiayi Pucangan dengan anak Bendesa Lumintang itu beliau menurunkan 2 (dua) orang putra dan seorang putri. Setelah kedua putra laki-lakinya dewasa ternyata keduanya mempunyai keahlian yang mengagumkan, yang tertua bernama Ki Bagus Alit mempunyai keahlian nulup dan adiknya mempunyai keahlian memainkan cemeti.


Mendengar berita bahwa putra Kiayi Pucangan yaitu Ki Bagus Alit mempunyai keahlian nulup, maka Ida Sri Aji Dalem di Gelgel (Dalem Waturenggong) memanggil Ki Bagus Alit agar datang ke Gelgel menghadap raja untuk membunuh burung gagak yang selalu datang mengganggu santapan Dalem. Datanglah Ki Bagus Alit disertai adiknya ke Gelgel menghadap raja yang kemudian diberikan tugas untuk membunuh gagak itu dan ternyata tugas tersebut dapat dilaksankan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai balas jasa, maka Ki Bagus Alit dan adiknya diberikan kedudukan di Badung oelh Ida Sri Aji Dalem tetapi masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Arya Tegeh Kori yang sedang berkuasa di Badung. Tempat kedudukan beliau di Badung ialah Puri Pemecutan sekarang yang di baratnya terdapat Pura Nambangan Badung. Diperkirakan pada waktu itulah (akhir abad ke-15) 3 (tiga) orang bersaudara di Buahan menyusul ke Badung, yaitu :

1.Ki Gusti Nengah Samping Boni,

2.Ki Gusti Nyoman Batan Ancak, dengan meninggalkan seorang putra bernama Angligan,

3.Ki Gusti Ketut Lebah.


Mula-mula mereka berkumpul di Nambangan Badung, kemudian menyebar yaitu : Ki Gusti Nengah Samping Boni dan Ki Gusti Ketut Lebah di Tegal, sedangkan Ki Gusti Nyoman Batan Ancak di Tonja, sedangkan keempat putra Sira Ngurah Tabanan yang lainnya pindah ke Kota Tabanan sekarang dan masing-masing mempunyai tempat :

1.Sira Ngurah Langwang di Puri dan beliau sebagai Prabu Tabanan,

2.Ki Gusti Mediatara di sebelah barat daya Puri (Puri Subamia),

3.Ki Gusti Pascima di sebelah selatan Puri (Puri Meregan),

4.Ki Gusti Wetaning Pangkung di Delod Rurung.


Diceritakan kembali Ki Gusti Nyoman Batan Ancak yang berada di Benculuk Tonja, menurunkan seorang putra bernama Ki Gusti Upasta Panjang dan seorang putri bernama Ni Gusti Ayu Batan Ancak, kawin dengan Ki Gusti Brengos dan keturunannya ke Beranjingan (Jero Agung Semawang, Intaran-Sanur). Ki Gusti Upasta Panjang menurunkan seorang putra bernama Ki Gusti Wayahan Kelod Kauh yang nantinya menurunkan 3 (tiga) orang putra, yaitu :

1.Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh,

2.Ki Gusti Badeng,

3.Ki Gusti Nyoman Rai.


Setelah Ki Gusti Nyoman Batan Ancak wafat di Badung, keturunannya tidak mendapatkan kedudukan di badung (Bendana). Berdasarkan ceritra para pengelingsir Puri di Badung, begitu pula sebagaimana yang tertulis dalam Babad Arya Kenceng Tabanan (halaman 24) disana tertulis dalam bahasa kawi :

”Kunang Waneh Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh, ring bendana, putran Ki Gusti Wayahan Kelod Kauh, putrake Ki Gusti Upasta Panjang, kula sentana saking Ki Gusti Nyoman Batan Ancak, sira tatan oleh kewirjan ring Bendana, marmaning malwi maring singasana, sira ta kinon de Sri Megada Sakti asrma maring Pandak makarumaksing kekisik negara”.


Jadi keseluruhan sentana Ki Gusti Nyoman Batan Ancak kembali ke Kerajaan Tabanan demikian juga Ki Gusti Nengah Samping Boni, sedangkan Ki Gusti Ketut Lebah ceput. Sebagai kenangan yang dapat kita yakini bahwa Ki Gusti Nyoman Batan Ancak pernah tinggal di Tonja, di sana ada banjar yang bernama Banjar Batan Ancak sedangkan di Tegal ada banjar yang bernama Banjar Samping Boni.


Keseluruhan sentana Ki Gusti Nyoman Batan Ancak diperkirakan kembali ke Tabanan Akhir abad ke-16 dan sesampai di Tabanan berkumpul bersama-sama di Delod Rurung/ Sakenan, yang akhirnya kemudian menyebar :

1.Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh tetap di Delod Rurung,

2.Ki Gusti Badeng di Pasekan,

3.Ki Gusti Nyoman Rai di Emalkangin.

Tiada berapa lama di Tabanan, Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh (menurut cerita memperistri salah seorang keturunan dari Jero Agung Semawang, Intaran-Sanur) menurunkan 2 (dua) orang putra:

1.Ki Gusti Putu Ancak,

2.Ki Gusti Gede Ancak.


Kemudian datanglah permohonan rakyat Pandak ke hadapan Raja Tabanan, agar di Pandak ditempatkan Anak Agung (Perabu) untuk ngewangkuang jagat di Pandak karena selalu terjadi gejolak-gejolak dalam masyarakat. Untuk memenuhi permohonan rakyat Pandak itu, maka diangkatlah Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh oleh Ki Gusti Alit Dawuh / Sri Magada Sakti, Raja Tabanan XI (1700) sebagai Prabu di Pandakgede sekaligus sebagai penguasa wilayah selatan Tabanan, diperbolehkan membawa Kawitan, Batur, menempati Puri dengan segala persyaratannya sebagai tanda mengagungkan Ki Gusti Nyoman Batan Ancak yang akan dijadikan Pemucuk.


Kedatangan Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh ke Pandak diperkirakan pada awal abad ke-17 disertai oleh seorang putranya yaitu Ki Gusti Gede Ancak, sedangkan Ki Gusti Putu Ancak tetap tinggal di Delod Rurung/ Sakenan Tabanan.


Mula-mula Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh beserta  Ki Gusti Gede Ancak berdiam di tempat yang nantinya menjadi Saren Kelod sambil menunggu selesainya pembuatan Puri. Oleh karena itu di saren kelod ada merajan kecil yang dulunya dipakai tempat pemujaan terhadap Ida Sanghyang Widhi Wasa.


Diceritakan tentang Ki Gusti Gede Ancak selama di Pandak rupanya tidak mendapatkan kepuasan dan ketentraman batin, sehingga beliau jarang di Puri yang konon kemudian beliau meninggalkan Puri pergi menuju Kusamba. Tiada berapa lama di Kusamba beliau menurunkan seorang putra bernama Ki Gusti Nyoman Gongsor. Setelah Ki Gusti Gede Ancak wafat di Kusamba, kemudian Ki Gusti Nyoman Gongsor pergi meninggalkan Kusamba menuju Marga dan akhirnya menetap di Jelantik.


Diceritakan kembali bahwa setelah Puri di Pandakgede selesai dibangun yang konon pembangunannya dibantu oleh rakyat pandak, diantaranya tembok penyengker yang tinggi dan tebal itu lengkap dengan persyaratan sebagai Puri yang terdiri dari 4 (empat) tingkat pemedalan sebagaimana yang kita saksikan sekarang, yaitu :

1.Pemedalan pertama: ke Tandakan,

2.Pemedalan kedua:ke Jaba Tengah (Bale Kembar),

3.Pemedalan ketiga: ke Jabe Tandeg (Kori Agung),

4.Pemedalan keempat: Ancak Saji (Apit Surang).


Kemudian pindahlah Ki Gusti Nyoman Kelod Kauh menempati Puri, yang nantinya beliau menurunkan 2 (dua) orang putra dan seorang putri, yaitu :

1.Ki Gusti Made Kandar,

2.Ki Gusti Ketut Karya,

3.Ni Gusti Ayu Kompiang.